Pesantren di Indonesia memiliki sejarah yang sangat panjang, dan perannya tak dapat dianggap remeh terhadap perkembangan Islam di nusantara, bahkan di dunia. Sehingga, situasi lembaga pesantren harus dilihat dalam hubungannya dengan perkembangan Islam dalam jangka panjang, baik di Indonesia maupun di negeri-negeri Islam lainnya. Dan, perkembangan itu terus berlangsung.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren dapat dipandang sebagai tempat yang khusus. Sehingga untuk memahaminya kita dapat menjelaskannya dari unsur-unsur yang mendominasinya. Adapun yang dapat dianggap sebagai unsur utama pesantren: pondok (asrama), masjid, santri, sistem pengajaran, kyai, dan hubungan dengan dunia luar (baik dengan lingkunan sekitar maupun dengan lingkungan lebih luas).
Pengaruh kuat pesantren telah membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik, dan keagamaan masyarakat Banten, baik di perkotaan dan pedesaan. Pesantren dengan kesederhanaan bangunan-bangunan dalam pesantren, kesederhanaan cara hidup para santri, kepatuhan para santri kepada kyainya dan, mempelajari kitab-kitab Islam klasik telah menjadi kekhasan Kabupaten Pandeglang. Secara representatif Islam di pesantren Banten dapat diungkap secara mendalam dan menyeluruh melalui kitab kuning yang diajarkan. Paling tidak ada 100-115 kitab yang diajarkan di pesantren Pandeglang. Sejarah mencatat intelektualisme pesantren termasyhur bertaraf internasional dan menjadi guru besar di pusat Islam, Haramain (Makkah-Madinah), seperti Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Mahfudz al-Tirmasi, Syeikh Yasin al-Fadani, dan banyak lagi. Secara umum, untuk memahami pesantren ada tiga kecenderungan yang mungkin terjadi: kembali ke sistem dan struktur semula seperti belum terjadi perubahan-perubahan; mempertahankan status quo; atau mengembangkan pesantren agar berpartisipasi dalam proses sosial.
Lokasi
Pesantren ini terletak di ujung barat pulau Jawa. Secara administratif Pesantren An Nizhomiyyah masuk wilayah Desa Sukamaju, yang terletak di perbatasan daerah pantai dan pegunungan di Kabupaten Pandeglang. Namun demikian, letaknya tidak terpencil, karena tak kurang dari 1 km terdapat terminal bus Labuan. Jarak dengan kantor kecamatan pun kurang lebih 3 km, sedangkan jarak dengan kantor bupati kurang lebih 40 km.
Untuk mengunjungi desa ini dengan menggunakan sarana transportasi darat tidaklah sukar. Dari terminal Kalideres, Jakarta Barat, menuju tempat penelitian ini memakan waktu antara 4-5 jam, dengan menggunakan bus antarkota-antarprovinsi. Selain dari terminal Kalideres, perjalanan dengan transportasi umum dapat ditempuh dengan waktu yang relatif pendek dengan memutus jalur dari Kebun Jeruk, Jakarta Barat, menuju Kabupaten Serang (1-1,5 jam). Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Labuan (1,5-2,5 jam). Sedangkan dengan mengunakan sarana transportasi pribadi memakan waktu kurang lebih 3 jam.
Tidak lebih dari satu kilometer dari terminal bus Labuan perjalanan dilanjutkan ke arah barat kita sudah sampai Desa Sukamaju, dan untuk mencari kompleks bangunan Pondok Pesantren An Nizhomiyyah tidaklah sukar. Tak jauh dari terminal bus Labuan, di pinggir jalan sebelah kanan kita akan menemui papan nama berwarna kuning pucat yang bertuliskan nama pesantren, lambang pesantren, kegiatan yang diselenggarakan pesantren, dan alamat beserta nomor telponnya yang berwarna hitam. Hawa udara desa Sukamaju, dan kecamatan Labuan pada umumnya panas, tetapi tidak menyengat. Pepohonan dan persawahan masih banyak, permukiman penduduk tidaklah padat, dan kendaraan (baik roda 2 dan roda 4) lalu-lalangnya tidaklah terlalu padat.
Namun demikian, di Desa Sukamaju dan desa tetangganya, Cigondang, Kecamatan Labuan, sejak pertengahan tahun 2006 warganya menghadapi keresahan. Ketidaknyamanan warga ini sehubungan dengan kedatangan para calo tanah yang datang tanpa ”permisi” untuk membebaskan lahan yang akan digunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berlokasi di Blok Ciantap, Desa Sukamaju, Kecamatan Labuan, sebanyak 60 hektar. Sejumlah masyarakat mengaku keberatan dengan beredarnya spekulan yang telah memborong tanah di lokasi PLTU seharga Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu per meter. Pasalnya harga beli itu bertentangan dengan harga ganti rugi yang akan dilakukan pemerintah sebesar Rp 60 hingga Rp 70 ribu per meter. Kata Sanja, warga Kampung Jaha Masjid, Desa Sukamaju, teknis pembelian yang dilakukan para calo adalah melalui perantara. Mereka datang setiap hari, masuk ke rumah-rumah penduduk. “Bagaimana warga bisa berpikir rasional, jika warga yang memiliki tanah di lokasi PLTU terus-terusan didatangani para calo”.
Suatu ketika seorang insinyur di Kota Serang berujar bahwa jalan menuju Banten Selatan sudah baik. Memang ada benarnya omongan insinyur yang sering mangkir dari proyeknya itu, jalan menuju ke Banten Selatan sudah baik. Namun, tidak semuanya sudah baik. Saat peneliti mengunjungi Pandeglang, kondisi jalan masih banyak jalan yang penuh lubang dan bergelombang. Kondisi ini sangat terasa tidak nyaman saat peneliti ke Labuan dengan menggunakan kendaraan roda dua dari Kabupaten Serang. Perjalanan di jalan yang tidak begitu lebar, kurang lebih lebarnya 5 m, lebih nyaman dengan menggunakan mobil pribadi. Kesan pertama menginjakkan kaki di desa Sukamaju aroma konflik sangat terasa. Karena merasa tidak nyaman ini peneliti baru masuk menemui perangkat desa dan masyarakat desa ini setelah kunjungan ke-4. Tiga kunjungan sebelumnya peneliti hanya melihat-lihat, dan kadang bertanya pada orang yang peneliti temui. Seolah seperti mendapatkan kemudahan, kunjungan ke-empat sangat nyaman dan semuanya berjalan lancar. Memasuki pesantren dapat bertemu dengan kyai yang sangat terkenal baik di kalangan warga dan lingkungan Kandepag Kabupaten Pandeglang. Dan, dari pertemuan pertama inilah penelitian selanjutnya dilakukan.
Pondok (Asrama)
Sekarang ini ada kecenderungan menurunnya masyarakat terhadap mondok di pesantren, termasuk di Pandeglang. Pesantren An Nizhomiyyah yang berdiri sejak tahun 1980-an ini sejak tahun 2000-an santri yang mondok semakin berkurang. Sehingga, bangunan pondok yang ada terlihat sepi dari aktifitas santri. Pondok di pesantren ini terdiri dari dua bangunan utama, satu untuk putri dan satunya lagi untuk putra. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1980-an itu kini nampak tua dimakan umur. Pintu yang lapuk, cat dinding yang mengelupas, atap yang terlihat terkena rembesan air hujan, dan bolong-bolong tembok di sana-sini. Seolah sudah lama tidak direnovasi dan dibersihkan, bangunan untuk kamar putri dan putra terlihat sama kurang terawatnya. Akan tetapi, tumpukan buku berderetan dengan barang lainnya memperlihatkan bahwa kesan intelektual pada kamar sangat terasa.
Seolah tidak ada batasan interaksi dengan kyainya, bangunan yang terdiri dari dua lantai itu bersebelahan dengan pondok pengelola pesantren. Kurang lebih daya tampung pondokan, dengan kamar terdiri dari 4-6 orang, memuat 100-150 orang santri.
Masjid
Salah satu kelengkapan dalam pondok pesantren adalah rumah ibadah, masjid. Bagi kaum muslimin masjid merupakan titik awal dan titik akhir dalam beraktifitas, baik beribadah mahdhoh maupun beribadah mu’amalah. Kehadiran masjid di kompleks bangunan pondok pesantren menjadi tempat mengingat kebesaran sang pencipa (mushola), sebagai tempat belajar (madrasah), dan pusat kegiatan.
Di lingkungan kompleks pondok pesantren An Nizhomiyyah, masjid berada di dekat jalan. Bahkan terkesan seolah terpisah dengan pondok pesantren. Bangunannya kira-kira berusia 20 tahun. Kesucian tempat ibadah terlihat dari kebersihan ruang sholat utama dan teras. Pintu masjid yang selalu terbuka itu memiliki daya tampungnya kurang lebih 250 jamaah. Bentuk arsitekturnya sangat kuat nuansa arsitektur budaya Banten. Kesan masjid ini sebagai tempat sentral kegiatan para santri sangat tidak terasa, karena hiasan dinding yang menjelaskan struktur dan kegiatan pesantren tidak terlihat.
Santri
Santri menjadi ciri khas kota Pandeglang: kota santri. Namun, kultur santri yang berkembang sejak jaman kerajaan Banten ini sekarang mulai terkikis oleh roda modernisasi. Pergeseran nilai berlangsung semakin cepat, akibat desakan nilai-nilai baru. Ada yang masuk lewat produk-produk industri informasi, seperti media cetak dan audio-visual. Ada juga yang masuk lewat interaksi dengan masyarakat luar, karena sebagai daerah wisata. Dulu, pakian umum bagi kaum pria adalah sarung dan peci, kini telah berubah. Bahkan, Kota Pandeglang disebut juga sebagai kota sarung. Sedangkan pakian kaum perempuan jarit dan kerudung kini pun telah berubah. Kota santri Pandeglang kini sedang menunjukkan fenomena sosial yang menarik.
Santri di pesantren Pandeglang, termasuk di An Nizhomiyyah, ada yang menetap di asrama dan ada pula santri musiman/kalong. Di Pesantren An Nizhomiyyah santri kalong lebih banyak daripada santri yang menetap. Mereka datang dari berbagai daerah di Banten. Para santrinya mengkaji sebuah tema yang dipilih oleh kyai, yang dikontekskan dengan permasalahan yang sedang hangat dan kondisi masyarakat waktu itu. Kebanyakan mereka bukan anak-anak lagi. Mereka adalah para remaja, pemuda dan bapak/ibu. Para santri ini jumlahnya 200-an orang, namunmereka lebih suka disebut sebagai jamaah majlis taklim.
Sedangkan santri yang mondok di pesantren ini berjumlah 120 orang (putra dan putri). Mereka berasal dari masyarakat keluarga ekonomi menengah ke bawah. Asal mereka dari kota-kota di Provinsi Banten.
Kyai
Di Banten, Kyai dan jawara merupakan sub-kelompok masyarakat yang memainkan peran penting hingga saat ini. Meskipun peran dan kedudukan tradisional mereka terus digerogoti arus modernisasi yang semakin hegemonik. Namun demikian, perubahan-perubahan tersebut tidak sampai menghancurkan semua kedudukan dan peran sosial mereka secara menyeluruh. Kyai sampai kini tetap merupakan salah satu orang yang dihormati oleh masyarakat. Di samping tokoh-tokoh lain. Demikian pula jawara, selain berusaha untuk tampil lebih ramah sehingga bisa diterima masyarakat, mereka kini tidak hanya memainkan peran tradisional mereka, tetapi juga merambah pada sektor-sektor ekonomi dan politik di Banten. Apalagi setelah Banten menjadi sebuah propinsi yang mandiri, lepas dari wilayah Jawa Barat, peran jawara dalam percaturan bidang politik dan ekonomi memainkan peran yang sangat besar.
Provinsi Banten yang sangat kental nuansa keagamaan, peran tokoh agama sangat besar dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kyai di Banten memiliki status sosial yang dihormati oleh masyarakat. Seolah mereka memiliki ketergantungan terhadap tokoh-tokoh agama dalam memandu kehidupan yang penuh ketidakpastian ini. Peran kyai dalam masyarakaat Banten pada masa kini tidak sepenting masa-masa yang lalu. Arus modernisasi yang banyak mengagungkan kepada materi dan menuntut profesionalisme dalam segala bidang, telah menempatkan kyai hanya pada peran-peran yang berkaitan langsung dengan masalah keagamaan. Sudah tidak banyak kyai yang memiliki peran yang menentukan di luar masalah keagamaan, seperti pada masa kolonialisme atau pada masa awal kemerdekaan RI dan zaman revolusi fisik tahun 1945-1950.
Salah satu kyai di pesantren ini memiliki kharisma yang sangat disegani oleh masyarakat Pandeglang. Setiap dua pekan sekali ia pernah kuliah di Iran ini mengadakan pengajian. Para santrinya terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, dari petani sampai pejabat daerah. Pejabat tertinggi desa Sukamaju adalah murid setianya. Bahkan, bupati Pandeglang dulunya merupakan santrinya. Namun, karena sering melakukan pelayanan yang tidak memihak pada masyarakat, Kyai Encep Badruzzaman Raffly menolak kedatangan bupati di pesantrennya, sampai bupati yang sering menggunakan politik uang ini berubah menjadi baik kembali.
Jumlah pengajar pondok pesantren tidak banyak, hanya 3 orang. Jumlah ini sebenarnya sangat kurang, jumlah santri 80 orang, namun dengan jadwal yang disusun secara efektif proses pengajaran dapat berlangsung dengan baik.
Sistem Pengajaran
Dengan jumlah pengajar pondok yang terbatas, sistem pengajaran di pesantren ini masih menggunakan sistem klasik, kolosal, dengan jadwal yang teratur rapi. Pelajaran didapatkan santri pada ba’da subuh, ba’da asar, dan ba’da isya.
Manajemen dan Adminstrasi
Pesantren yang didirikan oleh KH. Tb. A. Rafe’i Ali ini menggunakan manajemen keluarga, namun demikian administrasinya dikelola secara profesional. Adapun susunan Pengurus Yayasan Syeikh Yusuf Makmun sebagai berikut:Ketua Umum KH. Tb. A. Rafe’i Ali; Wakil Ketua H. Tb. E. Badruzzaman Reffly; Sekretaris Umum H. E. Saefuddin Asnawi M,BA; Wakil sekretaris H. Dien Ucu Syaihabuddin Asnawi, M.Pd; Bendahara Dra. Neng Dara Affifah, M.Si; Anggota H. Tb. Ace Hasan Sadzily, M.Si, Nong Darol Mahmudah, M.Si, dan Deden Hidayatullah, A.Md.
Kerjasama Pesantren Dengan Kandepag Dan Kandindik
Di lingkungan Kandepag Pandeglang, Pesantren An Nizhomiyyah dikenal sangat baik dari banyak hal, misalnya kyainya, pengelolaan pesantren. Kesan ini didapatkan dari hasil kerjasama yang selama ini terjalin di antara mereka. Kerjasama yang terjalin di antaranya: Kandepag memberikan sepenuhnya program dan bantuan yang datang dari pusat. Sementara itu, di lingkungan Kandikda Pandeglang, pesantren ini kurang begitu dikenal, karena belum ada kerjasama di antara mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar